Siapa yang Mengharuskan?

Sebuah opini terkadang dapat mengubah sudut pandang seseorang dalam menilai sesuatu. Lalu bagaimana jika pendapat tersebut juga diselaraskan dengan realita yang ada? Bukankah sebaiknya demikian adanya? Pernyataan yang kita utarakan hendaknya bertumpu pada logika berpikir yang netral atau tidak memihak atau berada di tengah-tengah atau merupakan sebuah band yang berubah nama menjadi NTRL. Meskipun kita bebas berucap, tetapi hendaknya perkataan kita tidak menyakiti pihak manapun. Sebab dampak dari menyakiti tidak akan tidak sakit, maka jangan berani bermain-main dengan si karma. Ia tak bertuan dan tidak akan berpihak pada siapapun.

Pernah pada suatu waktu saya melihat sinetron Indonesia yang “berkualitas”. Anda jangan berburuk sangka dulu, sebab tidak sembarang orang bisa menjadi pemerannya, termasuk Anda yang tentunya lebih hebat. Yang saya permasalahkan di sini bukan pemainnya, tetapi penyampaian isi cerita yang terkesan melenceng dari akal sehat. Bagaimana tidak? Seseorang yang tahu jika dirinya akan berubah menjadi duyung ketika terkena air, pastilah tidak akan berani menerima ajakan sang pujaan hati (manusia) untuk bermegah diri di atas air. Dengan berbagai alasan hendaknya ia menolak jika identitasnya tidak ingin diketahui orang lain. Lalu, apakah sebuah mobil Zebra seri 1,3 bodytech bernomor plat AD 9097 VA yang melaju kencang ke arah pemain utama bagaikan sebuah ujian tertulis? Sehingga membuatnya tidak mampu berpikir, bahkan untuk bergerak sekalipun? Sungguh tidak bisa dipercaya.

Jika dilihat-lihat kembali, sinetron Indonesia antara satu stasiun TV dengan yang lain sebenarnya tidak jauh berbeda. Mereka menggunakan ide cerita yang (hampir) sama dan merubah beberapa bagian dari intisari agar terlihat (sedikit) berbeda. Dengan sudut pandang yang sama, mereka menolak mentah-mentah untuk menjadi “berbeda”. Padahal seorang guru tidak mengharuskan muridnya untuk memberikan jawaban yang sama persis dengan teman sebangkunya. Ia berharap agar mereka mau sedikit bermain-main dengan imajinasi mereka. Tapi entahlah, mungkin yang mereka lakukan tidak jauh-jauh demi menjaga keutuhan NKRI. Mengapa harus repot-repot berkumandang, “Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu” sedangkan kita bisa seirama untuk memperkuat kesatuan? Sungguh-sungguh terjadi.

Sebagai penutup agar terlihat keren, saya ingin mengatakan sesuatu. Sebuah paragraf, idealnya terdiri dari 5-10 kalimat. Dan setiap kalimat hendaknya terdapat kata kerja di dalamnya. Dua kalimat sebelum kalimat ini saya buat agar paragraf ini terlihat sesuai standar. Dan bagi Anda yang kurang setuju dengan pernyataan saya di paragraf-paragraf sebelumnya, tidak apa-apa. Sebab, siapa yang mengharuskan? Saya? Tentu saja tidak. Sekian dan terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s