Berkaca dari Pohon Tebu

Di suatu sore yang langitnya berawan atau mendung ataupun pada siang dan malam hari, Ayah saya pernah berkata, “Aja pilih-pilih tebu, mengko ndhak ra payu.” Yang dalam bahasa Indonesia berarti, “Jangan pilih-pilih tebu, nanti malah tidak laku.” Dan mengapa latar belakang waktunya banyak sekali? Sebab pernyataan itu sering terlontar kepada saya, tentu saja ketika saya ada di situ. Hampir di semua hari ataupun waktu dan cuaca pernah terlintas perkataan itu. Entahlah, mungkin di masa lalu ayah saya adalah seorang pecinta tebu. Siapa yang peduli? Tapi yang pasti, ada makna tersirat dalam perkataannya itu.

Ayah saya adalah seorang laki-laki. Beliau bernama Wijayanto, sebab kata laki-laki adalah lawan dari perempuan sehingga tidak mungkin diberi nama Wijayanti. Lahir pada 15 Desember 1965 dan memutuskan untuk mencukur habis rambutnya dengan alasan sederhana, biar keren. Tragis memang. Karena alasan yang sebenarnya adalah pertumbuhan rambut yang sudah tidak merata lagi. Laki-laki itu adalah seorang kutu buku dan penikmat drama Korea yang sudah kehilangan sebagian jati dirinya. Ya, sekarang beliau sedang berambisi untuk berjualan, di manapun dan kapanpun. Meskipun sudah jarang membaca, tetapi kutipan dari buku-buku yang pernah dibacanya selalu menghiasi percakapan kami. Dengan gurauan-gurauan kecil yang menciptakan sebuah kenangan yang selalu berkesan bagi saya; tidak tahu kalau bagi ayah.

Tebu adalah sebuah tanaman yang kita kenal sebagai bahan baku pembuatan gula. Dengan batang yang rasanya manis dan menjulang tinggi, ia sebenarnya sangat mudah tumbuh. Tumbuhan bernama latin Saccharum officinarum L. ini biasanya cenderung ditanam pada musim kemarau. Sekedar informasi saja, tanaman tebu adalah jenis tanaman musiman. Meskipun anda mungkin tidak peduli dengan informasi tersebut, tidak apa-apa. Mengapa? Sebab saya juga tidak peduli dengan ketidakpedulian anda.

Lantas apakah korelasi antara makna perkataan ayah saya tentang tanaman tebu dengan kehidupan saya? Sebenarnya hal tersebut berhubungan dengan kisah percintaan saya yang mengenaskan. Bagaimana bisa? Ini adalah cerita saya, jadi tentu saja bisa. Singkat cerita, sampai sekarang saya belum memiliki pacar lagi sejak putus dengan dia sewaktu smp dulu. Sebenarnya ayah saya bukanlah pemerhati hati saya kelak akan jatuh kepada siapa. Akan tetapi, berhubung saya sudah dewasa sekarang maka beliau (mungkin) mulai bertanya-tanya mengapa saya masih melajang. Tanaman tebu dapat diibaratkan sebagai manusia yang tidak sempurna, sebab tidak ada batang tebu yang benar-benar lurus. Jadi yang dimaksudkan adalah agar saya tidak usah pilih-pilih orang sebab semua orang sebenarnya sama saja, memiliki kelebihan dan kekurangan. Meskipun demikian, kata-kata ayah tetap saja membuat saya kesal. Siapa juga yang pilih-pilih? The only one adalah yang terpilih. Jadi saya juga tetap harus memilah dari banyaknya “tebu”; dengan cara pilih-pilih tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s